Dua hasad yang diperbolehkan
Khutbah Jumat
A
Ahmad khotib
9 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Betapa meresahkannya hati ini ketika terjerumus dalam lembah kedengkian. Hasad, sifat iri dan dengki, adalah racun yang perlahan menggerogoti keimanan, merusak ukhuwah, dan menjauhkan kita dari rahmat Ilahi. Ia menyalakan api di dada, meracuni pikiran, dan menutup pintu kebaikan. Namun, di tengah kegelapan sifat tercela ini, ada seberkas cahaya, dua jenis hasad yang justru dipuji, bahkan dianjurkan oleh syariat kita. Inilah rahasia keagungan Islam, yang mampu memurnikan bahkan hal yang nyaris sama menjadi sesuatu yang mulia.
Kalaulah kita bertanya, apakah mungkin ada hasad yang baik? Jawabannya adalah ya, dan itu adalah bukti limpahan karunia Allah yang mengajarkan kita bukan sekadar menghindari keburukan, tetapi juga memahami nuansa kebaikan yang tersembunyi.
Yang pertama, hasad kepada seseorang yang Allah anugerahkan kepadanya Al-Qur'an, lalu ia mengamalkannya siang dan malam. Ini adalah kecemburuan yang positif, kerinduan yang membakar jiwa untuk menjadi seperti dia, bukan dengan berharap hilangnya karunia itu darinya, tetapi dengan harapan agar Allah juga memberikannya kepada kita. Ia adalah keinginan kuat untuk meraih ilmu dan mengamalkan kalam Allah, agar hidup kita diterangi cahaya-Nya, hati kita disucikan oleh firman-Nya, dan langkah kita selalu tertuntun oleh petunjuk-Nya.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 121:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Para ulama menjelaskan, bahwa seseorang yang hasad dalam makna baik ini, ia tidaklah menginginkan nikmat yang dimiliki saudaranya itu lenyap, tetapi ia berkeinginan agar Allah menganugerahkan kepadanya karunia yang serupa. Ini adalah semangat berlomba dalam kebaikan, memotivasi diri untuk lebih dekat kepada Al-Qur'an, lebih tekun mempelajarinya, dan lebih khusyuk mengamalkannya. Betapa indahnya hidup jika senantiasa diliputi semangat semacam ini, berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Yang kedua, hasad kepada seseorang yang Allah anugerahkan kepadanya harta, lalu ia membelanjakannya sepanjang hari (dalam kebaikan). Ini adalah hasad yang bercampur dengan ketamakan suci, kerinduan yang mendalam untuk menjadi seperti dermawan yang mulia itu. Ia bukan menginginkan harta itu hilang dari saudaranya, tetapi berharap ia pun dianugerahi kemampuan dan kesempatan untuk berbuat demikian. Ia adalah dorongan untuk meniru jejak para dermawan sejati, yang menjadikan hartanya sebagai kendaraan menuju surga-Nya, yang tidak menghitung jumlah pemberiannya, tetapi menghitung ridha Allah di setiap tetes keringatnya.
Bayangkan, seorang sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, memiliki harta yang banyak. Namun, ia tidak pernah segan untuk menginfakkannya di jalan Allah. Ia pernah menghabiskan seluruh hartanya untuk membebaskan budak-budak mukmin yang tersiksa, dan ia tidak pernah mengatakannya sebagai kesombongan, melainkan sebagai panggilan jiwa untuk berbakti. Inilah contoh nyata hasad yang diperbolehkan, sebuah semangat untuk meniru kebaikan para kekasih Allah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak dihasadkan kecuali dua jenis orang: (1) seseorang yang diberi Al-Qur'an oleh Allah, lalu ia membacanya sepanjang malam dan sepanjang siang, dan tetangganya mendengarnya seraya berkata: 'Seandainya aku diberi seperti apa yang diberikan kepada Fulan, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat.' Dan (2) seseorang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia membelanjakannya sepanjang siang dan sepanjang malam, lalu tetangganya berkata: 'Seandainya aku diberi seperti apa yang diberikan kepada Fulan, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat.'"
Subhanallah! Inilah hasad yang membangkitkan semangat taqwa, hasad yang membersihkan jiwa dari sifat tamak duniawi, dan hasad yang mengarahkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia adalah bara api yang membakar semangat agar kita senantiasa terdepan dalam keimanan, dalam amal shaleh, dan dalam kedermawanan.
Wahai saudara-saudaraku, marilah kita renungkan. Berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, yang seringkali kita lupakan? Berapa banyak kesempatan berbuat baik yang telah berlalu, namun kita sia-siakan? Jangan biarkan hati kita dipenuhi kedengkian yang merusak. Gantilah dengan kerinduan dan semangat untuk meniru kebaikan orang-orang shaleh. Jadikanlah setiap kebaikan yang kita lihat pada orang lain sebagai cambuk untuk diri kita, agar kita lebih giat lagi dalam meraih ridha Allah.
Marilah kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniakan kepada kita Al-Qur'an yang menjadi penyejuk hati dan petunjuk hidup. Semoga Dia menganugerahkan kepada kita harta yang berkah, dan kemampuan untuk membelanjakannya di jalan kebaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berlomba dalam kebaikan, dan tidak pernah lelah merinduSYURGA-NYA.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.